Jahe

Atau dengan nama latin Zingiber officinale Indonesia sangat kaya dengan sumber daya flora. Di Indonesia, terdapat sekitar 30.000 spesies tanaman, 940 spesies di antaranya dikategorikan sebagai tanaman obat dan 140 spesies di antaranya sebagai tanaman rempah. Dari sejumlah spesies tanaman rempah dan obat, beberapa di antaranya sudah digunakan sebagai obat tradisional oleh berbagai perusahaan atau pabrik jamu. Dalam masyarakat Indonesia, pemanfaatan obat tradisional dalam sistem pengobatan sudah membudaya dan cenderung terus meningkat. Salah satu tanaman rempah dan obat-obatan yang ada di Indonesia.

jahe azwaNama ilmiah adalah Zingiber officinale. Kata Zingiber berasal dari bahasa Yunani yang pertama kali dilontarkan oleh Dioscorides pada tahun 77 M. Nama inilah yang digunakan Carolus Linnaeus seorang ahli botani dari Swedia untuk memberi nama latin.

Jahe Gajah

Menurut para ahli, Ginger (Zingiber officinale) berasal dari Asia Tropik, yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu, kedua bangsa itu disebutsebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masakan, dan obat-obatan tradisional. Belum diketahui secara pasti sejak kapan mereka mulai memanfaatkanya tetapi mereka sudah mengenal dan memahami bahwa minuman ini cukup memberikan keuntungan bagi hidupnya.

Klasifikasi dan morfologi

Ginger (Zingiber officinale) termasuk dalam ordo Zingiberales, famili Zingiberaceae, dan genus Zingiber (Simpson, 2006). Kedudukan tanaman ini dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber officinale Rosc.

Tanaman ini merupakan terna tahunan, berbatang semu dengan tinggi antara 30 cm – 75 cm. Berdaun sempit memanjang menyerupai pita, dengan panjang 15 cm – 23 cm, lebar lebih kurang 2,5 cm, tersusun teratur dua baris berseling. Tanaman ini hidup merumpun, beranak-pinak, menghasilkan rimpang dan berbunga. Berdasarkan ukuran dan warna rimpangnya dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu: gajah yang ditandai dengan ukuran rimpang yang besar, berwarna muda atau kuning, berserat halus dan sedikit beraroma maupun berasa kurang tajam; emprit yang ditandai dengan ukuran rimpang yang termasuk kategori sedang, dengan bentuk agak pipih, berwarna putih, berserat lembut, dan beraroma serta berasa tajam; merah yang ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil, berwarna merah jingga, berserat kasar, beraroma serta berasa sangat tajam.

Khasiat Jahe Merah Instan

Khasiat Jahe Merah Instan

Kandungan kimia

Banyak mengandung berbagai fitokimia dan fitonutrien. Beberapa zat yang terkandung dalamnya adalah minyak atsiri 2-3%, pati 20-60%, oleoresin, damar, asam organik, asam malat, asam oksalat, gingerin, gingeron, minyak
damar, flavonoid, polifenol, alkaloid, dan musilago. Minyak atsiri mengandung zingiberol, linaloal, kavikol, dan geraniol. Rimpangnya yang kering per 100 gram bagian yang dapat dimakan mengandung 10 gram air, 10-20 gram protein, 10 gram lemak, 40-60 gram karbohidrat, 2-10 gram serat, dan 6 gram abu. Rimpang keringnya mengandung 1-2% gingerol. Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat tempat tumbuh tanaman ini. Gingerol juga bersifat sebagai antioksidan sehingga bermanfaat sebagai komponen bioaktif anti penuaan. Komponen bioaktif dapat berfungsi melindungi lemak atau membran dari oksidasi, menghambat oksidasi kolesterol, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Jahe Merah

Selain kandungan senyawa gingerol yang bersifat sebagai antioksidan, juga mempunyai kandungan nutrisi lainnya yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Berikut kandungan nutrisi tiap 28 g dalam Tabel 2.1:
Tabel 2.1. Kandungan nutrisinya pada tiap 28 g.

Nutrisi  (tiap 28 g)
Kalori 22
Natrium 4 mg
Karbohidrat 5 gr
Vitamin C 1,4 mg
Vitamin E (alfa tokoferol) 0,1 mg
Niasin 0,2 mg
Folat 3,1 µg
Kolin 8,1 mg
Magnesium 12 mg
Kalium 116 mg
Tembaga 0,1 mg
Mangan 0,1 mg

Manfaat

Berkaitan dengan unsur kimia yang dikandungnya, dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam industri, antara lain sebagai berikut: industri minuman (sirup, bubuk dan instan), industri kosmetik (parfum), industri makanan (permen, awetan, enting-enting dan wedang), industri obat tradisional atau jamu, industri bumbu dapur.

Selain bermanfaat di dalam industri, hasil penelitian Kikuzaki dan Nakatani (1993) menyatakan bahwa oleoresin yang mengandung gingerol memiliki daya antioksidan melebihi α tokoferol, sedangkan hasil penelitian Ahmed et al (2000) menyatakan bahwa memiliki daya antioksidan yang sama dengan vitamin C.

Memiliki rimpang yang kaya akan kandungan poliphenol ternyata dapat melindungi tubuh dari berbagai polutan yang ada di lingkungan. Efek antioksidan dapat meningkatkan hormon testosteron, LH dan melindungi testis tikus putih yang diinduksi oleh fungisida mancozeb.

Yang digunakan sebagai bumbu dapur ternyata juga dapat melindungi tubuh dari berbagai bahan kimia, hal ini dapat dilihat bahwa dapat menurunkan kadar glukosa darah, kolesterol dan triasilglyserol pada mencit yang diinduksi oleh streptozotocin dan juga menurunkan kadar glukosa darah tikus putih yang diinduksi oleh aloksan. Rimpangnya juga bersifat nephroprotektif terhadap mencit yang diinduksi oleh gentamisin, dimana gentamisin meningkatkan reactive oxygen species (ROS) dan yang mengandung flavonoid dapat menormalkan kadar serum kreatinin, urea dan asam urat pada tikus percobaan.

Penelitian yang dilakukan terhadap 24 mahasiswa pesantren yang diberi minuman selama 30 hari, memberikan hasil bahwa minuman ini dapat menurunkan kadar MDA plasma dan meningkatkan kadar vitamin E plasma dibandingkan kelompok kontrol yang tidak diberi minuman, dari hasil ini menyatakan bahwa berperan sebagai antioksidan dalam proses peroksidasi
lipid dimana dapat diukur dari kadar MDA plasma. Ekstraknya ternyata dapat sebagai radioproteksi dengan menurunkan kadar enzim GPx dan MDA plasma mencit yang diradiasi oleh fast neutron.

Stoilova menyatakan bahwa ekstrak CO2 dari Zingiber officinale mengandung polyphenol yang menunjukkan kapasitas tinggi sebagai chelator sehingga dapat mencegah inisiasi radikal hidroksil yang diketahui sebagai pencetus terjadinya peroksidasi lipid, dengan demikian ekstrak CO2 dapat digunakan sebagai antioksidan. Gugus hidroksi fenolik dehidrozingeron mempunyai aktivitas antioksidan melalui penangkapan radikal hidroksi.

Senyawa 2-methoxyethanol (2-ME)

Senyawa 2-methoxyethanol (2-ME) atau sinonimnya ethylene glycol monomethyl ether (EGME) merupakan salah satu senyawa dari kelompok phatalate ester, dengan rumus molekul C3H8O2. Senyawa ini mudah terbakar, tidak berwarna, mempunyai titik didih 124,6 °C dan titik beku -85,1 °C. Senyawa 2-ME digunakan sebagai pelarut pada cat, tinta print, tiner, vernis, perekat lem, parfum, kosmetik, pelapis porselin, dan bahan pembersih. Industri tekstil, industri kulit, dan industri plastik pembungkus makanan banyak menggunakan 2-ME. Senyawa 2-ME tidak tersedia di alam tetapi diproduksi dari reaksi antara ethylene oxide dengan methanol. Sifat dari 2-ME adalah mudah terbakar, mudah menguap dan larut dalam air, alkohol, glikol, dan sebagian besar hidrokarbon.

Di dalam tubuh, senyawa 2-ME merupakan hasil hidrolisis dari dimethylphtalate (DMEP). Senyawa 2-ME mengalami metabolisme menjadi 2- methoxyacetaldehid (MALD) dikatalisis oleh alcohol dehidrogenase, kemudian oleh aldehid dehidrogenase diubah menjadi methoxyacetic acid (MAA), yang merupakan bahan toksik dan teratogenik.

Senyawa MAA disekresikan dalam urin manusia sekitar 85% dari 2-ME yang terhirup. Waktu paruh ekresi MAA lewat urin manusia
sekitar 77 jam. Senyawa MAA bersifat teratogenik dan toksik pada organ reproduksi, terutama pada organ reproduksi jantan. Testis sebagai organ yang reproduksi yang sensitif terhadap paparan 2-ME.

Toksisitas 2-methoxyethanol

Senyawa 2-ME akan tersebar luas dan masuk ke dalam sirkulasi darah kemudian menuju organ yang sensitif terhadap zat tersebut yaitu testis, limpa dan timus. Senyawa 2-ME juga dapat menyebabkan penurunan motilitas dan morfologi spermatozoa. Senyawa 2-ME yang diberikan pada mencit jantan dengan dosis 200 mg/kg berat badan dapat menyebabkan kerusakan tubulus seminiferus, yaitu adanya penurunan jumlah spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit oval dan ukuran diameter serta
tebal epitel tubulus seminiferus.

Hasil metabolisme dari 2-ME yaitu MAA yang dapat menyebabkan apoptosis spermatosit pakhiten dalam jumlah besar pada mencit jantan usia 18-21 hari yang belum selesai proses spermatogenesisnya. Pada dosis akut, MAA dapat menurunkan kemampuan fertilisasi spermatozoa selama 3-4 minggu setelah perlakuan. Pada dosis kronik, MAA menyebabkan kerusakan yang luas dan permanen.

Pengaruh 2-methoxyethanol terhadap kualitas spermatozoa

Senyawa MAA sebagai hasil metabolisme senyawa 2-ME merupakan oksidan yang kuat dan dapat menyebabkan stres oksidasi pada spermatozoa. Stres oksidasi pada spermatozoa menyebabkan gangguan pada proses oksidasi fosforilasi sehingga terjadi peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS). Kadar ROS yang berlebihan dapat melebihi pertahanan antioksidan dan
menyebabkan stres oksidatif yang menginduksi kerusakan permanen sel-sel testis. Kadar ROS yang tinggi dapat mengoksidasi lipid, protein, dan DNA. Sedangkan peroksidasi lipid pada membran spermatozoa menghasilkan senyawa
malondialdehyde (MDA), yang bersifat toksik pada sel sehingga menyebabkan kerusakan membran spermatozoa dan penurunan integritas spermatozoa. Kerusakan membran spermatozoa dan penurunan integritas spermatozoa dapat menurunkan kualitas spermatozoa. Kadar ROS yang tinggi tidak hanya mempengaruhi integritas DNA dalam inti spermatozoa, tetapi juga kelenturan membran sel sehingga menurunkan kualitas spermatozoa.

Spermatogenesis

Spermatozoa atau spermatozoon atau sering disebut dengan sperm cell merupakan sel haploid (n) yang dibentuk di dalam tubulus seminiferus dari gamet jantan melalui proses yang kompleks yang disebut spermatogenesis. Spermatozoa merupakan hasil perkembangan dari sel germinal yang berada di testis, dikeluarkan dari tubuh organisme jantan dalam bentuk semen (spermatozoa dan plasma semen). Spermatogenesis adalah proses pembelahan dan perkembangan spermatogonia (germ cell) membentuk spermatozoa yang terjadi di dalam tubulus seminiferus testis. Sel germinal merupakan sel induk dari sel spermatogenik. Keberadaan sel germinal diatur secara regular yang terletak di bagian dasar tubulus seminiferus (spermatogonia) yang akan berkembang menjadi spermatosit, semua terletak di lapisan epitel spermatogenik dalam tubulus seminiferus. Proses spermatogenesis dibagi menjadi dua tahap, yaitu spermatositogenesis dan spermiogenesis. Spermatositogenesis merupakan rangkaian perubahan spermatogonia menjadi spermatid. Spermatogonia merupakan sel bakal spermatozoa, terletak pada membran basal epitel tubulus seminiferus, dengan ciriciri vesikular dengan membran inti yang jelas. Spermatogonia memperbanyak diri (proliferasi) secara kontinyu melalui proses mitosis, menghasilkan spermatogonia dalam jumlah besar. Beberapa spermatogonia berhenti berproliferasi, kemudian mengalami differensiasi dan membelah secara mitosis menjadi spermatosit primer. Setiap spermatosit primer bergerak ke arah dalam dari epitel spermatogenik dalam tubulus seminiferus. Sel ini mengandung kromosom diploid berkembang menjadi sel yang berukuran paling besar dari seluruh sel spermatogenik. Selanjutnya, terjadi duplikasi DNA dan mengalami pembelahan meiosis I sehingga menghasilkan spermatosit sekunder. Pada pembelahan ini menghasilkan variasi genetik, seperti pemisahan secara random kromosom induk dan crossover kromosom, meningkatnya variasi genetik gamet. Kemudian spermatosit sekunder membelah lagi melalui proses meiosis II untuk menghasilkan empat sel spermatid yang mengandung kromosom haploid.

Beberapa ahli ada yang menyebutkan proses pembentukan spermatid dari spermatosit sekunder adalah spermatidogenesis. Spermatosit sekunder secara cepat membelah meiosis II dan menghasilkan spermatid haploid, sehingga di preparat histologi, keberadaan spermatosit sekunder jarang tampak. Spermatid haploid ini kemudian mengalami perubahan morfologi membentuk spermatozoa yang terletak di lumen tubulus seminiferus. Spermatozoa merupakan hasil dari diferensiasi spermatid, dan proses tersebut dikenal sebagai spermiogenesis.

Jumlah spermatozoa

Kualitas sperma bergantung pada beberapa faktor, salah satunya adalah jumlah spermatozoa. Penghitungan jumlah spermatozoa rutin dilakukan dalam analisis sperma. Jumlah spermatozoa sangat berpengaruh terhadap fertilisasi. Tidak ada korelasi ukuran badan dengan jumlah spermatozoa yang dihasilkan atau dikeluarkan. Analisis sperma dilakukan terhadap jumlah spermatozoa dengan menggunakan mesin hitung atau menggunakan hemositometer.

Morfologi spermatozoa

Spermatozoa memiliki bagian-bagian penyusun antara lain adalah kepala (head), leher (connecting piece), dan ekor (tail). Bagian kepala terdapat inti dan akrosom yang dilindungi oleh membran sel, sedangkan bagian ekor dibedakan bagian utama (mid piece) yang di dalamnya terdapat mitokondria sebagai organel sel yang menghasilkan energi untuk motilitas, bagian tengah (principle piece), dan bagian pangkal (end piece).

Struktur spermatozoa dewasa tersusun dari inti yang berada di bagian kepala, pada sebagian besar mammalia berbentuk oval dan pipih. Selama spermiogenesis spermatid haploid berkembang membentuk flagella atau ekor dan mitokondria berada pada bagian tersebut yang dikenal dengan middle piece. Struktur lain dari bagian kepala spermatozoa yang berperan dalam fertilisasi adalah akrosom. Akrosom merupakan pembesaran dari lisosom yang terletak di sekitar inti bagian anterior yang dilindungi oleh membran akrosom. Membran akrosom tersusun oleh dua lapis. Lapisan bagian dalam (inner acrosomal membrane) menghadap ke inti dan bagian luar (outer acrosomal membrane) berhadapan dengan membran sel.

Motilitas spermatozoa

Motilitas spermatozoa dalam saluran reproduksi jantan terjadi secara pasif. Sifat motilitas spermatozoa akan tampak setelah bercampur dengan sekresi dari kelenjar kelamin aksesoris pada saat ejakulasi. Pendewasaan spermatozoa terjadi pada kauda epididimis (dapat bergerak atau motilitasnya aktif dan tidak ada sitoplasma yang menempel pada kepala atau leher spermatozoa serta puncak aktivasi motilitas tampak pada ejakulat). Faktor-faktor yang mendasari aktivasi ini adalah pergerakan ion-ion, perubahan viskositas medium spermatozoa, alkalinasi sitoplasma, dan peningkatan cyclic adenosine monophosphate (cAMP)
intraseluler. Aktivasi motilitas spermatozoa tergantung pada kompleksitas biokimia dalam larutan selama proses ini terjadi. Mengalirnya cairan dalam tubulus seminiferus membantu pergerakkan spermatozoa dari tubulus menuju ke vas efferent dan kemudian ke epididimis. Sekresi sel Sertoli dan kontraksi otot polos peristaltik dalam epididimis juga membantu pergerakannya. Sebagian besar spermatozoa disimpan dalam kauda epididimis dan mampu hidup sampai beberapa bulan dalam keadaan immotil. Spermatozoa yang tidak mengalami ejakulasi, akhirnya akan mengalami fagositosis dalam epididimis. Spermatozoa dapat bergerak aktif setelah mengalami maturasi di epididimis, yaitu kelenjar reproduksi di luar testis. Pada proses maturasi terjadi perubahan-perubahan meliputi ukuran, bentuk, struktur organisasi mitokondria, fungsi imunitas, sifat dan permeabilitas membran plasma, daya tahan terhadap perubahan fisikokimia, dan ultrastruktur akrosom. Perubahan-perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan daya motilitas dan kapasitas fertilisasi spermatozoa. Bagian ekor spermatozoa sangat menunjang pergerakan spermatozoa. Pada bagian ini banyak dijumpai mitokondria sebagai sumber energi untuk pergerakan. Energi yang diperlukan dalam bentuk ATP. Energi yang dikeluarkan menyebabkan terjadinya dua macam pergerakan. Pertama, gerakan bergelombang ke ujung ekor (makin ke ekor semakin lemah). Ke dua, gerakan yang bersifat sirkuler tetapi arahnya melingkari batang tubuh bagian tengah lalu ke ujung ekor. Resultan dari dua gerakan ini menyebabkan spermatozoa motil. Menurut beberapa peneliti, kecepatan motilitas spermatozoa dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor umur dan obat atau bahan kimia. Motilitas adalah unsur yang sangat
penting dalam fertilisasi, karena motilitas merupakan salah satu faktor yang menentukan gambaran spermatozoa yang sehat. Motilitas membantu transport spermatozoa untuk mencapai tempat terjadinya fertilisasi, disamping itu juga dibantu oleh mekanisme yang lain, yaitu kontraksi otot polos dan pergerakan silia dari alat reproduksi betina. Sebagian besar spermatozoa bergerak aktif ke depan dengan berputar pada porosnya. Gelombang kelenturan pergerakan diawali dari bagian leher dan dilanjutkan sampai ke ekor. Perubahan posisi dari kepala sampai leher dan kembali ke kepala inilah yang menyebabkan pergerakan memutar.

Viabilitas spermatozoa

Viabilitas spermatozoa merupakan salah satu indikator dari ke empat indikator penilaian kualitas spermatozoa. Uji viabilitas spermatozoa bertujuan untuk mengetahui spermatozoa yang hidup dan spermatozoa yang mati. Uji viabilitas spermatozoa dilakukan ketika diketahui motilitas spermatozoa rendah dan necrozoospermia. Uji ini dilakukan dengan menggunakan pewarnaan eosin
dan nigrosin, spermatozoa yang hidup tidak akan dapat diwarnai karena membran selnya masih berfungsi dengan baik untuk menyeleksi zat-zat yang bisa masuk ke dalam sel, sedangkan yang mati akan menyerap warna (pada kepala spermatozoa berwarna merah).

Mencit (Mus musculus)

Menurut Armitage dan Myers klasifikasi mencit adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Ordo : Rodentia
Familia : Muridae
Genus : Mus
Species : Mus musculus
Mencit merupakan hewan coba yang paling sering digunakan dalam penelitian medis, karena harganya murah, mudah dalam pemeliharaan dan perlakuan, mudah berkembang biak, memiliki siklus reproduksi yang pendek dan susunan organ reproduksi yang pendek dan susunan organ reproduksi mencit jantan sama dengan manusia.

Berat badan mencit jantan dewasa 20-40 gram dan mencit betina dewasa 18- 35 gram. Waktu dewasa seksual mencit kurang lebih 60 hari, dan usia maksimum mencit adalah 1-2 tahun. Masa kebuntingan mencit 19-21 hari dan jumlah anak yang dilahirkan berkisar antara 6-15 ekor. Mencit jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah, yaitu dengan mengamati alat kelaminnya. Betina memiliki jarak yang pendek antara anus dan lubang genital ektsernnya. Mencit jantan lebih agresif dengan perawakan yang lebih besar dari betina. Hewan ini memiliki karakter yang lebih aktif pada malam hari dari pada siang hari.